Bertempat di sebuah mushola hijau di sisi sungai yang besar dengan pepohonan
yang rimbun, sungguh suasananya benar-benar asri menyejukkan. Lama tak menulis
kisah inspiratif seputar menghafal Al-Qur’an. Semoga bisa menginspirasi
kawan-kawan. Kali ini tokoh utamanya adalah adek Afifah :). Memang bukan kisah
pertama kali berjumpa, karena kami pertama bertemu ketika buka puasa bersama di Ma’had
Umar bin Khattab, juga pernah bertemu ketika aku mengantar ustadzah dan singgah di
rumahnya. Akan tetapi ini adalah sedikit kisah pertemuan pertama kami sebagai pengajar
dan murid.
Di mushola hijau ini, ketika dia datang lebih awal dari teman-temannya
yang lain. Adek Afifah memang paling besar dibandingkan teman-teman belajarnya yang
bahkan masih PAUD dan TK. Maka sebelum memulai belajar Al-Qur’an, aku ingin
mengenal dia lebih dekat. Aku pun menanyakan hafalannya sebanyak apa sekarang?
“7 juz”, singkat, padat, tapi sangat mengejutkan!
Bagaimana perasaan kalian jika harus mengajar Al-Qur’an anak SD yang hafalannya
7 juz ??? Ya, sekitar itulah perasaanku saat mengetahui hafalannya. “7 juz??
Beneraan 7 juz ding??” Tanyaku tampak meragukan jawabannya. Ia pun juga mengulang2
jawabannya dengan yakin dan penuh senyum, “Alhamdulillah sudah 7 juz ustadzaaah, sekarang sedang menyelesaikan surah Al-Baqarah”.
Sungguh bukan aku tidak percaya, hanya saja benar-benar anugerah dari Allah
subhanahu wa ta’ala aku bisa berjumpa dengan penghafal Al-Qur’an cilik ini. Tiada yang mampu terucap dari lisan ini selain pujian kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Bahkan
saat iseng kutanya berapa banyak hafalan kakaknya yang masih duduk di bangku SMP? Segera ia menjawab, “alhamdulillah sudah 26 juz ustadzah, sisa sedikit lagi khatam”, serasa ada bahagia penuh haru bercampur
malu atas apa yang ada pada diri. Benar-benar malu kepada Allah. Sudah
kukatakan bahwa cukup panggil kakak saja, jangan ustadzah. Tapi dia hanya
senyum dan tetap memanggil seperti yang dia mau. Allaaah, sungguh aib hamba tak
mampu terhitung, dibanding ilmu hamba yang ibarat sebutir pasir di tengah
gurun. Semoga panggilan itu menjadi do’a dan tidak memberatkan hamba dalam masa
perhitungan kelak.
Hari itu dia menyelesaikan tahsin tilawah surah Ibrahim. Dia mampu
menyadari sendiri kesalahannya yang bahkan terlewat dari perhatianku. Hanya
sekitar 4-5 kali kesalahan kecilnya, 4 kali salah mengucap huruf dan terlewat
dengung ikhfa satu kali, sisanya mumtaaz, maasyaAllah. “Shodaqollaahul ‘adziim”,
dia menyelesaikan tilawahnya. Aku masih terdiam, air mata pun tak tertahan.
Bacaannya benar-benar sempurna. Makhrojul hurf, harokat, dengung, waqofnya
maasyaAllah. Adek afifah benar2 cerdas ketika membaca ayat panjang, dia mampu
mengatur nafasnya yang tidak panjang agar berhenti dan memulai dengan sempurna.
Sungguh dengan logika manapun, aku lah yang harusnya banyak belajar dari adek Afifah.
Tapi begitulah pribadinya, lembut, penyayang, sangat menghargai orang lain, tak
pernah sekalipun dia merasa lebih tinggi, benar-benar akhlak yang menurun dari
didikan kedua orang tuanya.
Tentu tiap pertemuan waktu dengannya tidak pernah ku sia-siakan. Setiap
jawaban polosnya tidak mampu kubayangkan, senantiasa menenangkan dan melecut dalam
kebaikan. Bincang-bincang kami penuh tawa, aku hanya tidak ingin dia merasa
diinterogasi karena banyak sekali yang membuatku penasaran tentang perjalanan
hafalannya. “Ding, menghafalnya sejak kapan?” tanyaku “Duh, udah dari dulu
ustadzah, dari kecil.. kapan yaa, mungkin kelas satu” jawabnya. Aku terkejut,
membayangkan apa yang tengah kulakukan di usiaku waktu seumuran dia,
subhanallah. “Siapa yang mengajari menghafal sejak kecil?” lanjutku, “Ummi”
singkat jawabnya. “Sama siapa menyetor hafalannya?” “Sama siapa murojaahnya?”
tambahku, “Ummi” “Ummi” jawabnya masih sama.
Allahu Robbi, semakin diingatkan bahwa anakku kelak berhak mendapatkan
pengajaran Al-Qur’an langsung dari bundanya. Semoga bisa terwujud, aamiiin.
Tapi jangan khawatir para ayah, Adek Zahra, teman Adek Afifah ini pun pernah
kutanya siapa yang mengajari dan menemaninya membaca Al-Qur’an di rumah? Dia
dengan bangga menjawab, “Abi!”, Allahu Akbar!
Kembali ke Adek Afifah. Rasa haru makin menyesakkan dada, aku tahu
bagaimana sibuk ummu afifah ini, beliau adalah salah satu ustadzahku di ma’had
umar bin khattab. Pagi, siang, dan sore aktifitas beliau mengajar. Sederhana
dalam sunnah, lisan ustadzah hanya untuk ilmu dan nasihat penuh kelembutan,
kesan pertama itu yang kudapat dari keluarga beliau dan terus bertambah
mengagumi hingga kini.
“Ading pernah nggak merasa capek atau lelah kalo menghafal? Kan menghafal sama
murojaahnya setiap hari?” akupun
meneruskan perbincangan. “Nggak” jawabnya penuh keyakinan, maasyaAllah. Adek
Afifah melanjutkan “Menghafalnya memang setiap hari, murojaahnya juga setiap
hari. Tapi kalo lagi ulangan istirahat dulu menghafalnya, Cuma murojaah aja,
kalo hari minggu libur itu banyak banget dapatnya ustadzah”, “tapi pernah sih
ustadzah, kalo belum selesai menghafal, jadi bilang ke ummi, boleh ya mii nyetor
hafalannya nanti malam saja” lanjutnya sambil malu-malu. Ya Akhowatyy, bahkan
ketika hafalan harian itu belum disetor, bukan meminta waktu sampe besok, tapi
cukup sampai nanti malam, nampak sekali kebiasaan ini mendarah daging dalam
dirinya. Bahkan jawabannya saaat kutanya sebanyak apa ketika sekali menghafal tambah
menyulitkan aku menahan air mata ini. Allah, Allah, Allah.
Dia benar-benar akhowat yang cerdas, dia telah memiliki rencana kemana
dan apa yang akan dia pelajari di masa depan, cita-cita yang sungguh mulia ada
dalam pemikiran belianya. Adek Afifah juga benar-benar akhowat penyayang, hal
itu sangat tampak bagaimana dia mengajak serta menuntun adik-adiknya serta
turut mengajari ketika belajar. Pagi di sekolah, sore di mushola, dan malam
bersama orang tua, Adek Afifah sekeluarga belajar Al-Qur’an. Tiada merasa cukup jika itu adalah waktu interaksi bersama Al-Qur'an. Cintanya murni
kepada Al-Qur’an, tiada lelah, tiada jadi beban. Terima kasih telah mengajarkan
kakak begitu banyak pelajaran. Adek Afifah, si cerdas nan penyayang yang hafal
Al-Qur’an ini bersama saudara-saudarinya benar-benar pondasi penting menuju
negara yang mengamalkan Al-Qur’an. Generasi seperti mereka hanya mampu dijaga
oleh negara yang menerapkan syariat Islam secara sempurna. InsyaaAllah,
meskipun di tengah rusaknya sistem pemerintahan sekuler saat ini, kitapun bisa
mendidik putera-puteri kita sejak dini, dan indikator keseriusan itu akan
tampak dari seserius apa usaha kita memantaskan pribadi saat ini. Semoga tetap istiqomah. Aamiiin.
imania asoka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
jazakumullahu khairan katsir..
komentar anda, sarana perbaikan diri saya.. :)